Skip to main content

Jogja Berhati Mantan : Versi Titis


Diawali dengan slogan Jogja, Jogja Berhati Nyaman. Ada yang punya ide untuk membuat beberapa tulisan yang menggunakan plesetan dari slogan itu menjadi Jogja Berhati Mantan.

Beberapa waktu yang lalu saya baca artikel tentang Jogja Berhati Mantan klik di sini dan ada juga di sini yang sukses mendefinisikan Jogja secara relevan. Dari artikel itu saya juga jadi pengen nulis tentang Jogja versi saya, perantau dari kota sebelah yang pindah ke Jogja 6 tahun yang lalu.

Prolog.


9 April 2010.

Keputusan untuk pindah ke Yogyakarta merupakan keputusan yang tidak sulit, karena saya sudah sering ke Yogyakarta hanya untuk main atau keperluan keluarga. Namun saya tidak pernah sesungguhnya memahami, mengapa kakak saya yang sudah lebih dahulu pindah ke Yogyakarta di tahun 2002 jadi jarang pulang ke rumah dan memilih untuk tinggal di Jogja, bahkan ketika libur.


Hari itu saya pindah ke yogyakarta dengan alasan akan mengikuti kelas khusus persiapan ujian masuk universitas selama 3 bulan, yang kemudian mengijinkan saya untuk melanjutkan pendidikan di Kota Pelajar ini sampai 2014, dan bekerja di sini hingga sekarang.

~


Yogyakarta bukanlah hanya sebuah kota atau sebuah tempat bagi saya, ini adalah jiwa.


Jiwa yang mendewasakan seluruh isinya. Katanya, Kota Pelajar karena banyak sekolah dan universitasnya. Ya, itu tidak salah, tapi bukan itu bagi saya. Yogyakarta adalah sebuah jiwa yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang menyentuh hati secara tidak sadar maupun secara sadar. Tentang bagaimana memelihara kehidupan dengan kasih dan keikhlasan. Tentang bagaimana melihat kehidupan dari sudut pandang yang lain, yang mungkin tidak dapat kita lihat sendirian, namun harus melalui mata orang lain.

Yogyakarta adalah guru yang setia mengajarkan seluruh manusia di dalamnya untuk seutuhnya menjadi manusia, yang selalu ingat untuk melihat cita-cita setinggi langit namun tetap sadar bahwa kakinya berada di atas tanah, dan hatinya adalah milik sesamanya.

Dari kota ini, saya belajar bahwa sebuah senyuman bukanlah sebuah akibat dari kebahagiaan, tapi sebuah senyuman adalah sebab dari kebahagiaan itu. Sungguh tidak sulit ketika saya berjalan dalam kesedihan di jalan di Jogja, kemudian menemukan penarik becak atau petugas parkir tersenyum dan menyapa “Mbak..” atau “Monggo Mbak..”.

Sebuah kata dan sapaan sederhana yang menularkan kebahagiaan. Semakin yakin, bahwa kebahagiaan adalah sebuah pilihan yang dapat kita mulai sendiri, yaitu dengan sebuah senyuman.

Yogyakarta juga berhasil menumbuhkan rasa cinta, tak hanya pada manusia, namun pada kota ini sendiri. Kata dosen saya, ada kepercayaan kosmik mengapa di Yogyakarta ditanami Pohon Tanjung dan Pohon Asem dari Kotabaru sampai ke Malioboro. Konon katanya, Pohon Tanjung melambangkan laki-laki yang menyanjugn wanita ketika jatuh cinta, dan Pohon Asem mealmbangkan perempuan yang kesengsem (tersipu malu karena jatuh cinta).

Saya tidak pernah tahu apakah ada penelitian saintifik mengenai relevansi pohon ini dan perasaan manusia secara biologis, namun ketika saya merasakannya, ya begitulah rasanya.


Jogja juga mengajarkanku untuk kuat menghadapi tantangan, ketika harus bersedih melihat orang lain yang menderita di desa yang masih belum maju. Ketika harus menghadapi pertengkaran dengan sahabat, menghadapi rasa rindu pada teman yang tak lagi mudah ditemui, menghadapi penolakan dan rasa sakit hati ketika menerima revisi pekerjaan yang tak kunjung berakhir. Dan terkadang harus menghadapi luka hati dengan tegar dan tetap tersenyum untuk memastikan semua akan baik-baik saja.


Cinta ayah dan anak - Pantai Depok, 2015

Jogja bagiku juga adalah bibit dari kecintaanku terhadap seni dan budaya. 

Datang ke FKY tiap tahun untuk sekedar menikmati jajanan atau berburu barang-barang lawas. Duduk di KM 0 untuk merasakan bunyi-bunyian gaduh yang tidak pernah sama. Mengunjungi ArtJog bersama teman-teman di siang hari untuk berusaha menghidupkan jiwa seni dalam diri, dan ketika keluar tiba-tiba sudah malam kemudian rasa lapar selalu berhasil diselamatkan oleh pedagang kaki lima yang ada di mana-mana.


Berjalan di pinggir Kali Code, melihat kreatifnya warga menghias kampung mereka dnegan lukisan indah dan kerajinan dari barang bekas. Memandang langit dari GSP dan melihat orang dengan hobinya masing-masing mengisi waktu di sore hari mereka.


Karya Papermoon Puppet di ArtJog 2013

Jogja adalah proses pendewasaan.


Dia atas semuanya itu, jogja bagiku adalah awal dari sebuah proses. Jogja mengajarkanku bahwa persahabatan bukan bermula dari harta, kemewahan, atau kepentingan semata. Jogja mengajarkanku bahwa persahabatan dimulai dari sapaan “Halo Mas! Halo Mba! Halo Bro! Halo Dab!”, dimulai dari menunggu teman di depan kosnya untuk menemani makan, mengantarkan obat dan sarapan bagi teman yang sakit dan jauh dari orang tua, berteduh dari hujan lebat dengan posisi perut lapar bersama-sama, bercanda di bawah panasnya sinar matahari, belajar bareng di selasar kampus sampai diusir satpam. Jogja mengajarkanku cinta dapat bermula dari sesederhana “Lagi ngapain?”. Jogja mengajarkanku seru itu bermula dari mencoba hal baru yang ternyata mahal terus akhirnya ga jadi. Mencoba kafe baru yang ternyata agak mahal kemudian cuma pesan es teh tapi duduknya berjam-jam. Jogja mengajarkanku bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, namun justru saling menyempurnakan. Dibuktikan dengan adanya gunung dan laut di kota yang sama, yang keduanya indah dan saling melengkapi.


Persahabatan dimulai dari waktu selo yang diisi dengan percakapan ngalor ngidul yang kadang bikin seneng, kadang bikin sedih, kadang bikin baper. Jogja menyadarkanku bahwa uang bukanlah segalanya, karena dengan 2000 rupiah pun sudah dapat masuk ke museum dan mendapat ilmu. Dengan 2000 rupiah pun bisa menikmati musik di festival budaya di Pasar Ngasem. Persahabatan adalah hal yang sangat berharga dan tak ternilai harganya, sungguh tinggi dibandingkan kemewahan duniawi.

Proses pendewasaan yang diajarkan Yogyakarta telah berhasil membuat isinya lulus dari ujian yang sebenarnya, kemudian siap menghadapi tantangan baru di tempatnya masing-masing. Tak terhitung lagi berapa jiwa yang mendapatkan bekal di sini, kemudian terbang ke seluruh dunia untuk memulai hidup baru. Jogja adalah mula, dan bagi sebagian orang, mereka kembali untuk mengakhirinya di sini.


Kebahagiaan Sederhana Nonton Keroncong di Pasar Kangen

Jogja menyadarkanku, bahwa ketika tidak ada tempat bersandarpun, selalu ada cahaya sepeda neon yang siap menghibur dan kehangatan ronde dan kacang rebus beserta keramahan pedagangnya yang selalu mengingatkan bahwa kita tidak pernah sendirian. Saya tidak jarang menemukan orang berjalan sendirian di Yogyakarta. bahkan pedagang yang usianya sudah 80an masih berjualan koran sendiri di pertigaan Pasar Demangan, serta ibu penjual roti keliling berambut putih di sekitar Mrican dan Gejayan. Mereka berbagi kesamaan yaitu semangat berjuang. Sendiri bukan berarti lemah, sendiri bukan berarti sedih. Karena sekali lagi, kebahagiaan adalah sebuah pilihan, dan rasa ryukur untuk selalu bekerja adalah alasan untuk bertahan hidup.

Jogja menyadarkanku, bahwa kadang hidup tak selamanya indah, namun tetap selalu dapat disyukuri. Jogja menyadarkanku, bahwa tak perlu menjadi orang yang besar untuk membuat perubahan. Karena hanya dengan berbagi musik sederhana, sebuah senyuman, atau sapaan ringan, kita bisa membuat orang lain berbahagia. Hanya dengan mendengarkan dan berbagi cerita, bebanpun terangkat dari pundakmu.

Terkadang, hidup sesederhana itu.


Merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk merasakan hidup di Yogyakarta, yang tidak memerlukan banyak syarat dan bahkan sangat mudah untuk mencintainya. Justru dengan kesederhanaan, aku jatuh cinta pada suasana ini. Pada bau hujan yang menyentuh tanah, pada aroma kopi atau mie ayam dari warung di pinggir jalan, pada suara burung dan serangga di tanah lapang. Karena cinta yang sesungguhnya tidak mencari kesempurnaan, namun merupakan sebuah penerimaan. Cinta yang sesungguhnya tidak mengharapkan balasan, namun berdasarkan ketulusan yang tumbuh secara alami di dalam hati, untuk membuatnya merasa senang dan tersenyum.

Untuk itu, saga ingin mengutip kata-kata pada blog Jogja Berhati Mantan yang telah ada sebelumnya, karena, ya, saya setuju.

Jogja, kamu adalah mantan yang mustahil dilupakan oleh semua orang yang pernah mencintaimu.


Tahun ini akan sulit, ketika aku harus membuat keputusan untuk pergi. Namun aku tak akan pernah lupa, bahwa aku pergi untuk kembali. Karena cinta kota ini untukku, dan aku untuk kota ini membuatku merasa demikian. Semakin jauh aku pergi, semakin aku rindu untuk mencintaimu lagi, Yogyakarta.

Yogyakarta, 22 Maret 2016,
Xx,




T.

Comments

  1. bisa betah gt aku kalo di jogja nongkrong sendirian, Tis .. bisa berjam-jam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Litaaa aneh ini bloggerku semacam ga ada notifikasi kalo ada yang komen hahaha ini sudah lama banget padahal komennya. maaf baru dibalas. iya mba sama banget aku pun gitu kalo di jogja nongkrong berjam-jam juga betahhhhh :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Should I give up Instagram

It is day 64 of 2018. 
What it means to me that it has been almost three months since I woke up in my bed, thinking about what and where will I be this year. I was looking at my window with deep thoughts. Two lights across the street were faulty, while one was ready to follow. Today I was having such a good time with my boyfriend and my closest friends in Gothenburg. I tried to reflect what I have seen in the past 63 days and how just one thing changed my life.
The first day of 2018, I have made a promise to myself to at least try to start quitting lousy habit - in my case, it was Instagram. Many of you have asked me, why did I deactivate my account. Some of you even said you missed the whole Swedish Journey that I have shared. Some of you also wondered if something terrible happened to me, so I had to deactivate my account.
I was very active before. I shared everything, for the sake of starting a conversation with friends, or just for the convenience of "backup"-ing my picture…

Oseng Tempe Bali - Indonesian Delicacy Recipe Part 1!

Hello everyone!
One of my favourite thing about studying at Chalmers is the international environment where I get to meet lots of people from around the world and of course - to try new delicious food from lots of places! Since my friends and I have been having lots and lots of international dinners, I learned a lot about Indonesian dishes here. Before, I actually never knew how to make them (in Indonesia we have the tendency to buy food at restaurants or food stalls because it is so cheap and it saves lots of time). Now that I learned to cook some of the dishes, I actually feel like I respect more and I couldn't be more proud that we have lots of good food with such interesting way of cooking!

During the latest international dinner(s) I had with my close friends, I cooked Oseng Tempe Bali and Klepon. It was a surprise that everyone liked it! Therefore, I would like to share the recipe of Oseng Tempe Bali and Klepon that I made here. Of course, they did not taste 100% the same with …

Titis dan Tempe

Hai semuanya !



Today I will post about the latest activity that I am proud of (because normally I wouldn't even think of doing this). I am going to talk about my day with TEMPE !! (Btw maaf ya bahasanya agak campur-campur for this blog. I am too friggin' excited to share this, I ignore all of the language stuffs).

I am talking about tempe-food not Tempe, my friend.




This is my friend, his name is Tempe. Tempe is a guy. He has a band with Wednes called Rabu. Tempe wants to get his scholarship too, soon. Tempe is nice.  Be like Tempe.




...





Maaf untuk intermezzo barusan yang agak tidak penting.


YOW! Now I will start to write about tempe the food. So some of you may know that I will be going abroad very soon (still waiting for my visa to be granted - fingers crossed, toes crossed, everything crossed). The thing that my family and my friends are concerned of is that I will be missing a lot of things from Indonesia, especially the food (ayam geprek, rawon, sup ikan Manado, soto Betawi, pece…